Jangan terlalu berharap lebih dari postingan ini. Disini
saya tidak membahas sama sekali tentang KGSP, NIIED, KOICA, DIKTI dan jenis
full scholarship lainnya. Disini saya mau bahas tentang beasiswa atau potongan
harga lebih tepatnya, untuk beberapa universitas yang ada di Korea.
Jadi seperti postingan sebelumnya yang membahas tentang
liburan di Korea, semenjak saat itu saya jadi semangat banget untuk bisa kuliah
di Korea. Sepulangnya dari Korea langsung gencar cari informasi tentang kuliah
disana, browsing sana sini, tanya sana sini. Sampe akhirnya dikabarin sama teman saya kalo disekolahnya sempet ada edufair dan ada yayasan untuk
Universitas Korea.
Singkat cerita saya mendatangi salah satu yayasan pendidikan
korea yang berkantor di Plaza Menara Hijau di kawasan Cawang. Disini saya tidak mau bahas tentang
nama yayasan itu, karena mungkin pendapat saya kurang baik tentang yayasan itu.
Jadi saya datang ke kantornya dan menanyakan informasi tentang kuliah di Korea.
Yayasan tersebut bekerja sama dengan 5 universitas yaitu Yonsei University,
Myongji University, Kyunghee University, Dong A University dan Pukyong National
University (PKNU). Sistem beasiswanya yaitu 40% untuk setiap semester. Untuk
dapetin beasiswa ini kita harus tes di yayasan tersebut, setelah lolos dan
disahkan sama head office nya (orang Korea langsung) otomatis kita diterima di
5 universitas tersebut dan kita bebas memilih mau universitas yang mana.
Akhinya saya memutuskan untuk tes, tesnya berupa tertulis PG
40 soal 30 menit dan interview langsung sama head office nya. Dan ternyata saya
lolos. Itu tandanya saya sudah diterima di 5 universitas tersebut dengan
beasiswa awal 40%. Setelah diterima kita diharuskan membayar sebesar 10 juta
sebagai biaya administrasi, itu paling lambat dibayarkan seminggu setelah pengumuman
kelulusan. Setelah itu kita harus membayar pembayaran kedua sebesar 1000 USD
itu dibulan Juni untuk tiket pesawat, student visa, akomodasi sampai kampus. Untuk
bisa kuliah di Korea itu kita diwajibkan untuk bisa berbahasa Korea, dibuktikan
dengan lulus Topik sampai level 3. Topik itu semacam Toeflnya Korea. Jadi nanti
pihak yayasan ini memfasilitasi belajar bahasa secara intensif setiap
senin-kamis selama 2,5 jam, untuk biayanya sendiri 15 juta. Lamanya proses
belajar ini tidak ditentukan berapa bulannya, yang pasti setelah kita
dinyatakan lulus dan sudah membayar fee pertama yang 10 juta itu kita langsung
bisa mulai belajar bahasa.
Saya langsung berdiskusi dengan orang tua baiknya seperti
apa, keputusan apa yang harus diambil. Orang tua masih kurang yakin ambil
beasiswa ini karena saya sendiri anak tunggal jadi mereka berat melepas saya
pergi jauh (ceileh) dan juga dengan kebenaran dari yayasan ini. Akhirnya kita
sekeluarga konsultasi ke salah satu teman ayah yang dulu pernah ambil S2 di
Korea. Beliau sangat menyarankan sekali untuk saya kuliah di Korea, karena
pendidikan disana bagus, kemudian Korea sendiri merupakan negara yang aman,
cari pekerjaan dikedepannya mudah dan pastinya banyak mahasiswa Indonesia jadi
saya tidak akan merasakan sendiri atau kesepian. Tapi beliau menyarankan untuk
menyelidiki dulu apakah yayasan ini qualified apa tidak dan katanya akan coba
bertanya ke sesama temannya yang dulu kuliah di Korea. Besoknya beliau
mengabarkan kalau tidak ada satupun dari temannya yang mengetahui tentang
yayasan ini. Akhirnya orang tua saya pun panik dan meminta saya untuk
benar-benar memastikan dan mencari info lagi tentang yayasan ini.
Kemudian saya buka Facebook mereka disitu ada foto dari
keberangkatan sebelumnya. Ada beberapa siswa yang sudah berangkat ke Korea
melalui yayasan mereka. Untungnya ada salah satu foto yang men-tag nama
pesertanya. Saat itu juga langsung saya add dan kirim pesan ke dia perihal
yayasan ini. Singkat cerita dia bilang memang dia berangkat ke korea melalui
yayasan ini. Dia ambil beasiswa itu untuk pendidikan bahasa korea dulu baru
nantinya dilanjutkan dengan S1 disana. Dan katanya dia sedikit kecewa, pada
awalnya dia dijanjikan untuk tinggal di Seoul dan ternyata bukan, kemudian
jurusan yang dia mau ternyata tidak ada dikampus itu (saya tidak paham kenapa
ini bisa terjadi, apa dia tidak browsing dulu atau gimana) dan yang paling penting
yaitu dia mendapatkan beasiswa hanya untuk semester pertama saja. Akhirnya dia
hanya belajar korea sampai level 3 disana, pada level 4 nya dia pindah ke
universitas lain dan akhirnya cari beasiswa sendiri.
Dari sini bisa dinilai bahwa sebenernya yayasan ini benar
adanya, bukan penipu juga, dia memang benar memberangkatkan kita ke Korea dan
memasukan kita di salah satu universitas yang bekerja sama dengan dia. Tapi
dari sini terlihat bahwa dia hanyalah agen penyalur saja, istilah kasarnya
calo. Dia membuka jalan untuk kita bisa kuliah di Korea tapi selepas itu dia
lepas tangan atau tidak bertanggung jawab lagi dengan kita. Dan tentunya hal ini
yang membuat orang tua saya khawatir. Tinggal di negara orang yang jauh, gak
ada yang bisa jagain kita, gak ada yang mengawasi atau bertanggung jawab dengan
sekolahnya kita disana. Kalau disana ada apa-apa siapa yang mau bertanggung
jawab, kan tidak ada. Karena dari pihak yayasan pun mereka sudah melepas atau
sudah tidak mengurusi lagi. Dari situ saya memutuskan untuk tidak mengambil
kesempatan ini dan akhirnya mencari yayasan lainnya.
Postingan selanjutnya akan saya ceritakan pengalaman saya
dengan Yayasan Kyungsung Indonesia. Sekian dulu.














